Sunday, January 23, 2011

Berusaha Apa Adanya

Dalam menjalani Hidup, aku senantiasa berusaha apa adanya. Tapi kalau dianggap harus diada-adakan dan sifatnya tidak untuk memperlihatkan kekayaan atau gaya hidup ,aku bela-belain utang juga:).

Masih ingat, pada jamannya HP masih begitu terlihat Exlusif. yang duit berlebih aja yang bisa beli. Jangankan untuk beli HP, untuk bayar kos-kosan dan kuliah saja kalau sudah ada dah berterimakasih banget.
"Mbak,no HP nya berapa? tanya salah satu temen".
sambil senyum-senyum gak jelas, kujawab aja. " belum sempet beli HP :).
tapi khan diriku gak nyusahin orang meskipun gak punya HP.
masih ingat kapan bisa beli HP?
ingat sekali. saya malah pertama punya HP karena dapat Doorprice dari acara kantor thn 2004. Dan HP itu awettttt sekali. meskipun dah gak gaul lagi typenya. Sony ericson C58kalau gak salah,sampaek akhirnya 3 tahun sudah itu HP harus berantakan karena di banting sama my baby. ya sudah...mulailah berburu HP baru tapi tetep HP yg gak gaul ,murah meriah. Yang penting bisa buat terima tlp, sms, Telepon.
Jujur kalau soal kemajuan tecnology seperti saat ini sedang demam blackberry dari yang paling mahal sampai harga yg semakin di banting-banting, aku juga belum tertarik untuk memilikinya. Gak pengen kayak temen-temen yang lain,kayaknya keren gitu kalau dah bilang" Nanti aku BB ya:)"
Biasa saja. tidak ada yang menarik dari BB. mungkin karena type saya yang Apa Adanya,jadi tidak ambil pusing. Gak ada HP manapun saya juga bisa hidup. Jadi no problem buat saya.HP saya saat ini juga masih jadul punya kok. Nokia yang harga 250rb an. Tapi happy.

Namun ,kalau untuk investasi emang saya mati-matian. Dalam otak saya lebih tergiur dengan investasi jangka panjang ketimbang hanya korban mode saja. Mode yang hanya sesaat. sementara perjalanan yang akan datang lebih harus dipersiapkan.
apalagi bagi karyawan swasta seperti aku ini. Kalau tidak punya investasi untuk menghadapi pensiun nanti,apa kata dunia. Aku tak mau hidup minta-minta sama anak. Pelajaran dari Bapak saya. Bapak saya tidak pernah meminta sama anaknya. Beliau malah yang ngasih ke Anak-anaknya.

Aku juga bukan type manusia yang malu dengan keadaan. Rumah di tengah Jakarta yang jalannya hanya bisa dilewati satu motor,dan berhimpitan kanan-kiri dengan tetangga. Udara yang susah masuk karena saking deketnya tembik rumah tetangga. Tapi bersyukur masih punya rumah sendiri. Daripada ngontrak. Uang untuk bayar kontrakkan gak jelas. Karena tiap bulan nyicil tapi gak jadi milik:).

senang sudah mandiri. Dan tetap Apa Adanya.
yang diminta tetep menapaki jalan yang lurus seperti jalan yang di lalui Nabi Besar Muhammad SAW. pengennya juga jadi pedagang. Tapi pelan-pelan. gak mau grusa-grusu lagi. Biar antara kami ada yang jadi karyawan dan yang lain jadi pengusaha.

Tetap senyum meskipun Hidup Apa Adanya.

No comments: