Monday, June 20, 2011

Saat Aku Sakit

Pagi yang cerah ini,kepala rasanya puyeng. Perut mual. Namun saya paksa untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Berangkat kerja tidak ada alasan untuk mangkir,buat saya. Toh,hanya sakit begini saja. Masih bisa bergerak.
Menjelang siang, semakin terasa berat kepala, perut juga semakin mual. tapi masih bisa bertahan. Dan sampai saatnya pulang kerja.
Alhamdullilah dah sampai rumah, langsung berbaring.
Putriku memang sangat sensitif hatinya bila melihat saya sakit. Langsung dia masang body di pinggiran tempat tidur. Dan tangannya yang mungil segera memijit kepalaku,setelah saya bilang kalau ibuknya sakit kepala. Anak lelaki - anak keduaku,tidak kalah gaya. Langsung menawarkan diri untuk minum obat apa. Saya pesen untuk dibelikan Panadol warna biru. karena hanya obat bebas yang satu ini yang berani saya minum. Berlari dia ke warung depan rumah,dan memberi kabar kalau obat yang saya pesan tidak ada. Beractinglah si putri sulungku,untuk membelikan ke warung yang lebih jauh.

Mualpun tak tertahankan, akhirnya apa yang saya makan dari pagi sampai sore harus keluar semua. Lumayan lega. Putri sulungku sudah siap dengan segelas air putih dan obat di tangan di depan kamar mandi,menunggu mual saya selesai.

Ohhh,sungguh bahagia. di titipkan amanah yang luar biasa perhatian kepada orang tuanya. Malam-malam si sulung sudah siap untuk memberikan kerokkan.

Alhamdullilah sudah sembuh.

Tuesday, June 14, 2011

Tiba-tiba Ingat Emak

Apasih yang paling ada dalam pikiran kita,tentang sosok Emak/Ibu/Mama/Umi/....

Saat Setelah Aku di sebut Ibu:
yah,benar. saat pertama kali saya melahirkan seorang gadis manis,di temani oleh emak. Emak lari keluar ruang bersalin, katanya gak tega melihat saya menanti brojolnya sang jabang bayi. Ikut mulas jadinya.mak..mak,ada -ada saja.
Aku baru sadar beratnya perjuangan melahirkan. Sakit yang melilit-lilit,bahkan hampir saja putus asa. oh...begini rasanya pasti dulu saat emak melahirkanku. Kenapa saya dulu berani sama Emakku. sungguh anak yang bodoh sekali saya. Astaghfirullahalladzin. Ampuni aku ya Rabb. Aku berjanji tak akan mengulangi kesalahan lagi kepada Emakku.

Pulang Malam:
malam itu hujan rintik-rintik. seperti biasa aku pulang dari kerja sampai larut malam. biasanya selarut-larutnya pukul 22 malam. suasana kampungku memang sepi. apalagi ada batas antara rumah kampung sama tembok komplek ABRI.
sedikit kawatir pasti ada. Takut di hipnotis:). Kulihat ada bayangan dari kejauhan. tidak terlihat terang,karena lampu jalanan tidak seperti di Jakarta pastinya. Payung Emak. iya, hatiku lega tapi kasihan. Emakku sayang Emakku malang. di gerimis malam itu, seharusnya Engkau sudah tidur lelap, Engkau masih harus mau tidak mau memikirkanku. menjemputku. memayungiku. oh...sedang apa sekarang Emakku.

Kurangajar:
seumur-umur cukup sekali aku merasakan panasnya sentuhan tangan Emak di Pipiku. Tapi emang pantas. Saat itu,bapak minta di carikan sepatunya. Emak klimpungan ikut nyari-nyari. Aku dapat sepatu Bapak. ada satu kata yang terucap dari bibir kotor ini :
"Emakke khi ra nggenah, lha iki sepatune" ( bhs ind: Emak ini gak bener, ini lho sepatunya).
Plak... saya juga kaget. kenapa pipiku di tampar sama Emak. Ternyata kata-kata saya tidak sopan terhadap orang tua. Dari saat itu,saya lebih berhati-hati berbicara sama orang tua.

Bapak Marah, Emak Memelas
Aku dan mbakyuku main ke rumah temen. memang sampai larut malam. Di Semarang pukul 21.00 sudah di anggap tabu untuk anak gadis keluar rumah. dan itu terbawa sampai saya segede ini lho:).
Kita main juga untuk cari info pekerjaan. Tanya lowongan sana-sini.bukan buat yang aneh-aneh. Tapi Bapak marah besar. Saya and Mbakyuku di kunciin pintu. Tidak boleh masuk rumah. alhasil kita berdua, duduk di luar pintu belakang. Serem, gelap, sepi.

Emak, gak tega. dengan pelan-pelan emak membukakan pintu belakang. terdengar suara Bapak dari dalam, " gak usah di bukain Mak. Awas kowe.
Tapi Emak tetep aja nglawan perintah Bapak. lha kalo gak dibukain,apa yo aku suruh jaga pintu sampai pagi.

sambil pura-pura marah, emak nyuruh kami masuk kamar. Emak..Bapak...aku tahu, kemarahanmu karena kecintaanmu pada kami.

masih banyak lagi kenangan Emakku.
yang pasti Emakku paling hebat.