Pagi yang cerah ini,kepala rasanya puyeng. Perut mual. Namun saya paksa untuk tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Berangkat kerja tidak ada alasan untuk mangkir,buat saya. Toh,hanya sakit begini saja. Masih bisa bergerak.
Menjelang siang, semakin terasa berat kepala, perut juga semakin mual. tapi masih bisa bertahan. Dan sampai saatnya pulang kerja.
Alhamdullilah dah sampai rumah, langsung berbaring.
Putriku memang sangat sensitif hatinya bila melihat saya sakit. Langsung dia masang body di pinggiran tempat tidur. Dan tangannya yang mungil segera memijit kepalaku,setelah saya bilang kalau ibuknya sakit kepala. Anak lelaki - anak keduaku,tidak kalah gaya. Langsung menawarkan diri untuk minum obat apa. Saya pesen untuk dibelikan Panadol warna biru. karena hanya obat bebas yang satu ini yang berani saya minum. Berlari dia ke warung depan rumah,dan memberi kabar kalau obat yang saya pesan tidak ada. Beractinglah si putri sulungku,untuk membelikan ke warung yang lebih jauh.
Mualpun tak tertahankan, akhirnya apa yang saya makan dari pagi sampai sore harus keluar semua. Lumayan lega. Putri sulungku sudah siap dengan segelas air putih dan obat di tangan di depan kamar mandi,menunggu mual saya selesai.
Ohhh,sungguh bahagia. di titipkan amanah yang luar biasa perhatian kepada orang tuanya. Malam-malam si sulung sudah siap untuk memberikan kerokkan.
Alhamdullilah sudah sembuh.
Menjelang siang, semakin terasa berat kepala, perut juga semakin mual. tapi masih bisa bertahan. Dan sampai saatnya pulang kerja.
Alhamdullilah dah sampai rumah, langsung berbaring.
Putriku memang sangat sensitif hatinya bila melihat saya sakit. Langsung dia masang body di pinggiran tempat tidur. Dan tangannya yang mungil segera memijit kepalaku,setelah saya bilang kalau ibuknya sakit kepala. Anak lelaki - anak keduaku,tidak kalah gaya. Langsung menawarkan diri untuk minum obat apa. Saya pesen untuk dibelikan Panadol warna biru. karena hanya obat bebas yang satu ini yang berani saya minum. Berlari dia ke warung depan rumah,dan memberi kabar kalau obat yang saya pesan tidak ada. Beractinglah si putri sulungku,untuk membelikan ke warung yang lebih jauh.
Mualpun tak tertahankan, akhirnya apa yang saya makan dari pagi sampai sore harus keluar semua. Lumayan lega. Putri sulungku sudah siap dengan segelas air putih dan obat di tangan di depan kamar mandi,menunggu mual saya selesai.
Ohhh,sungguh bahagia. di titipkan amanah yang luar biasa perhatian kepada orang tuanya. Malam-malam si sulung sudah siap untuk memberikan kerokkan.
Alhamdullilah sudah sembuh.
No comments:
Post a Comment